Abu Abdullah Muhammad Al-Idrisi; dia merupakan salah seorang pakar sains Islam yang hidup di Sicily. Sumbangan utama tokoh ini ialah menghasilkan peta bola perak seberat 400 paun untuk Raja Roger II, lengkap dengan pembagian dunia kepada 7 iklim, jalur perdagangan, teluk, sungai, bandar-bandar besar, bukit dan lembah serta gunung-ganang. Al Idrisi lahir 1099 Masihi di Ceuta, Sepanyol meninggal pada 1166 Masihi. Beliau juga mencatatkan jarak dan ketinggian sesuatu tempat dengan tepat. Tokoh Geografi kurun ke-12 ini kemudiannya menghasilkan buku Nuzhah al Musytaq fi Ishtiraq al Afaq (Kenikmatan pada Keinginan Untuk Menjelajah Negeri-negeri) atau Roger’s Book, yaitu sebuah ensiklopedia geografi yang memuat peta dan informasi tentang negara Eropah, Afrika dan Asia. Buku ini membahas perihal masyarakat, budaya, kerajaan dan cuaca negara-negara yang terdapat di dalam petanya. Beliau turut menggunakan semula garisan lintang dan garisan bujur yang diperkenalkan sebelumnya dalam peta yang dihasilkan. Beberapa abad lamanya, Eropa menggunakan peta Al Idrisi dan turut menggunakan hasil kerja ilmuwan ini ialah Christopher Columbus
Abu Bakar
Muhammad bin Zakaria ar-Razi; dia atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat. Dia
merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930.
Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah
satu ilmuwan terbesar dalam Islam. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun
251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari
filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru
kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk
memimpin sebuah rumah sakit di Rayy.
Selanjutnya
ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Sebagai seorang dokter utama
di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat
penjelasan seputar penyakit cacar. Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang
menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang
alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya
penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga
merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk
melindungi diri. Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat
peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan
obat-obatan yang berasal dari merkuri.
Ibnu Sina; nama lengkapnya Abū ‘Alī al-Husayn
bin ‘Abdullāh bin Sīnā. Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat
Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada
bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).
Dalam
sejarah kedokteran Islam, Ibnu Sina yang dikenal juga sebagai Avicenna di dunia
barat, adalah seorang pakar ilmu kedokteran kelahiran Persia. Sebagian besar
karya beliau dalam dunia kedokteran telah diterapkan oleh para dokter hingga
pada saat ini. Salah satu buku karya Ibnu Sina (Avicenna) dalam bidang
kedokteran yang sangat terkenal adalah Qonun Fi Thibb (Canon of Medicine).
Karangan
Ibnu Sina ini dianggap sebagai pharmacopoeia pertama karena berisi hasil
eksperimen sistematis dan ilmu fisiologi yang ter-ukur, deteksi sifat penyakit
menular, pengenalan karantina untuk membatasi penyebaran penyakit menular,
pemahaman berdasarkan bukti medis, eksperimen medis, percobaan-percobaan
klinis, percobaan acak yang terkontrol, tes kemanjuran obat, clinical
pharmacology, neuropsychiatry, psikologi fisiologis, analisis faktor
risiko, dan ide dari suatu sindrom pada diagnosa penyakit tertentu. Beliau
sampai saat ini dianggap oleh banyak orang sebagai “Bapak Kedokteran Modern.”.
di antara penemuan-penemuan Ibnu sina adalah: teori penularan TBC, termometer
untuk mengukur suhu udara, teori etanol dapat membunuh mikroorganisme, pengukur
denyut nadi, dan lain sebagainya.
Abu Ali
Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham; dia biasa dipanggil Ibnu Haitham (Basra,965 – Kairo
1039). Dia dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen,
adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika,
geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan
mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti
Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Bidang
lain yang dikuasainya adalah Fisika, Optik, dan Matematika. Sekitar tahun 1000
Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat sesuatu oleh cahaya terpantul
dari benda-benda dan memasuki mata, menepis teori Euclid dan Ptolemy’s yang
sebelumnya mereka menyatakan bahwa cahaya itu dipancarkan dari mata itu
sendiri. Fisikawan muslim besar ini juga menemukan fenomena kamera obscura,
yang menjelaskan bagaimana mata melihat gambar tegak karena sambungan antara
saraf optik dan otak. Oleh karena itu dia dijuluki sebagai bapak optik.
Abul Qasim
Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi (936 M -1013 M); dia oleh orang barat dikenal dengan
nama Abulcassis adallah peletak dasar-dasar ilmu bedah modern. Al-Zahrawi
adalah seorang dokter bedah yang amat fenomenal. Karya dan hasil pemikirannya
banyak diadopsi para dokter di dunia Barat. ‘’Prinsip-prinsip ilmu kedokteran
yang diajarkan Al- Zahrawi menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di Eropa,’‘
ujar Dr Campbell dalam History of Arab Medicine.
Ahli bedah
yang termasyhur hingga ke abad 21 itu bernama lengkap Abu al-Qasim Khalaf
ibn al-Abbas Al-Zahrawi. Ia terlahir pada tahun 936 M di kota Al-Zahra, sebuah
kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol. Al-Zahrawi merupakan keturunan Arab
Ansar yang menetap di Spanyol.
Al- Zahrawi
meninggalkan sebuah ‘harta karun’ yang tak ternilai harganya bagi ilmu
kedokteran yakni berupa Kitab Al-Tasrif li man ajaz
an-il-taliI sebuah ensiklopedia kedokteran. Kitab yang dijadikan sekolah
kedokteran di Eropa itu terdiri dari 30 volume. Dalam kitab yang diwariskannya
bagi peradaban dunia itu, Al-Zahrawi secara rinci dan lugas mengupas tentang
ilmu bedah, orthopedi, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran
secara umum. Ia juga mengupas tentang kosmetika. Al-Zahrawi pun ternyata begitu
berjasa dalam bidang kosmetika. Sederet produk kosmetika seperti deodoran, hand
lotion, pewarna rambut yang berkembang hingga kini merupakan hasil karya
Al-Zahrawi.
Al
Jazari (1136-1206); dia mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian
hari dikenal sebagai mesin robot. Al Jazari merupakan seorang tokoh besar di
bidang mekanik dan industri pada abad ke-12. Lahir dari Al Jazira, yang
terletak diantara sisi utara Irak dan timur laut Syiria, tepatnya antara Sungai
Tigris dan Efrat. Al-Jazari merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya.
Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz
Al-Jazari dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas.
Al-Jazari mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat
temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat
ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable
automation, dan banyak lagi.
Dia adalah
penulis Kitáb fí ma’rifat al-hiyal al-handasiyya (Buku
Pengetahuan Ilmu Mekanik) tahun 1206. Beliau mendokumentasikan lebih dari
50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya, Bukunya ini berisi
tentang teori dan praktik mekanik. Karyanya ini sangat berbeda dengan karya
ilmuwan lainnya, karena dengan piawainya Al-Jazari membeberkan secara detail hal
yang terkait dengan mekanika. Dan merupakan kontribusi yang sangat berharga
dalam sejarah teknik. Donald Routledge dalam bukunya Studies in Medieval
Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun
dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk
merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun
oleh Al-Jazari.
Abdurrahman
al-Khazini;
demikianlah nama salah satu fisikawan muslim yang memiliki peran luar biasa
dalam ilmu sains, khusunya fisika. Charles C Jilispe, editor Dictionary
of Scientyfic Bibliography menjulukinya sebagai fisikawan terbesar
sepanjang sejarah. Para sejarawan sains juga menempatkan saintis kelahiran
Bizantium alias Yunani itu dalam posisi yang sangat terhormat.
Betapa
tidak, ilmuwan Muslim yang berjaya di abad ke-12 M – tepatnya 1115-1130 M – itu
telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan sains modern,
terutama dalam fisika dan astronomi. al-Khazini merupakan saintis Muslim
serbabisa yang menguasai astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika serta
filsafat. al-Khazini merupakan ilmuwan yang mencetuskan beragam teori penting
dalam sains seperti: metode ilmiah eksperimental dalam mekanik; energi
potensial gravitasi; perbedaan daya, masa dan berat; serta jarak gravitasi.
“Teori
keseimbangan hidrostatis yang dicetuskannya telah mendorong penciptaan
peralatan ilmiah. al-Khazini adalah salah seorang saintis terbesar sepanjang
masa,” ungkap Robert E Hall (1973) dalam tulisannya berjudul ”al-Khazini” yang
dimuat dalam A Dictionary of Scientific Biography Volume VII.
Author: Abdul
Aziz, Jember Jawa Timur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar